1. I visited Makassar in Indonesia recently to give a talk on democracy. It is where the forebears of Tun Razak and Dato Seri Najib came from. You cannot blame them for once again feeling proud that a descendant of a Bugis as the people of the Celebes are known, is once again the Prime Minister of Malaysia.
2. I felt much welcomed there although torrents of rain pured down on the city for hours. The sun came out the morning I went to the Universitas Hasanuddin for the talk. It was a coincidence of course.
3. The reception was heart warming. There were 2,000 faculty members and students in the audience. The Governor of Southern Sulawesi opened the proceedings after the introduction by the Rector of the university.
2. I felt much welcomed there although torrents of rain pured down on the city for hours. The sun came out the morning I went to the Universitas Hasanuddin for the talk. It was a coincidence of course.
3. The reception was heart warming. There were 2,000 faculty members and students in the audience. The Governor of Southern Sulawesi opened the proceedings after the introduction by the Rector of the university.
4. A choir made up of students sang beautifully. After the Question and Answer session following my speech the event was brought to an end by a recitation of the sajak "Perjuangan Yang Belum Selesai" by one of the senior professors. The choir then sang "Semalam Di Malaysia".
5. What a difference from the recent attempts to sour up relations between our two countries. There is really much goodwill towards Malaysia in Indonesia.
6. Air Asia flies there four times a week. There are great beaches, sparkling clear waters, abundant seafood and beautiful resorts. And friendly people. Things are cheaper than here. Malaysians should find Makassar a welcome change from the frenetic life in Jakarta.
5. What a difference from the recent attempts to sour up relations between our two countries. There is really much goodwill towards Malaysia in Indonesia.
6. Air Asia flies there four times a week. There are great beaches, sparkling clear waters, abundant seafood and beautiful resorts. And friendly people. Things are cheaper than here. Malaysians should find Makassar a welcome change from the frenetic life in Jakarta.


Yang berbahagia Tun,
Aku pertama kali ini baca ada blog milik Tun, dan dari dalamnya aku kagum akan pandangan-pandangan Tun sendiri mengenai masalah. Dan saya amat ekspresif ketika terjadi masalah di Bintan antara Indonesia dan Malaysia, Tun tetap pada pendirian bahwa Indonesia dan Malaysia masih bersahabat, dan Tun punya perspektif wacana yang baik dan tetap optimis terhadap Malaysia-Indonesia ke depannya ketika diwawancara oleh VivaNews, pasca kejadian di Bintan.
Saya yang tadinya marah dan berapi-api mencari tahu apa yang membuat kerajaan Malaysia sedemikian agresifnya terhadap Indonesia, akhirnya menjadi tersiram air ketika membaca blog Tun ini. Dan saya tahu bahwa masih banyak rakyat Malaysia yang merasa bahwa mereka membutuhkan Indonesia, dan Indonesia juga membutuhkan Malaysia. Bahwa komen yang sering dilontarkan oleh orang Malaysia dan orang Indonesia di internet, komen pedas, komen kasar dan bahkan bukan menjurus pada adat ketimuran kita sebagai bangsa di ASEAN, it is really make me can't sleep well.
Dan sering pula saya sedih karena banyak kejadian-kejadian tidak patut, macam disetrika badannya, dipukul dan dilukai dan dikasari, yang diterima oleh rekan-rekan yang bekerja di Malaysia sebagai TKI. Saya meski hanya pekerja swasta, cukup stress mendengar ini. Apalagi mendengar bahwa TKI di sana, meski ilegal atau resmi, kadang diperas dan dilecehkan.
Tapi memang saya akui, ada juga bahkan saudara saya yang bekerja sebagai TKI di sana, dan diperlakukan baik, bahkan oleh bangsa Tionghoa (sebutan orang Indonesia utk orang Cina). Tidak sedikit juga rekan-rekan saya dari desa diperlakukan baik, dan berniat kembali ke Malaysia untuk bekerja di sana.
Arus tenaga kerja yang sedemikian banyak yang dibutuhkan Malaysia, dan rusaknya mental segelintir orang Malaysia dan Indonesia yang ingin mencari untungnya saja, mencari tenaga kerja ilegal, inilah yang membuat masalah tenaga kerja menjadi masalah pelik. Siapa korbannya? Kedua negara, Malay dan Indo. Malaysia rugi karena banyak kasus pencurian dan narkoba ternyata pelaku dari Indonesia, Indonesia rugi secara imaterial karena namanya tercoreng sebagai bangsa pencuri dan miskin, meski sebenarnya tidak demikian.
Akhir-akhir ini saya sering juga mengikuti berita di Malaysia, bahwa Malaysia-pun juga memiliki masalah internal sama gawatnya dengan Indonesia. Masalah TKI ilegal, masalah perbatasan, masalah rasis, penyebutan nama Allah di kalangan non-muslim, dan masalah lainnya di Malaysia. Ini lho yang akan saya katakan, kita ini sama, tiada kaya tiada miskin, Indonesia Malaysia, atau bahkan Filiphine, Thailand, kita ini sama. Malaysia juga masih ada yang hidup di bawah garis kemiskinan, sama juga dengan Indonesia. Malaysia bisa besar karena dukungan besar Indonesia, baik di masa lampau maupun sekarang. Indonesia juga bisa besar, karena dukungan Malaysia juga.
Tetapi kenapa selalu kita tidak bisa akur? Saya rasa, konsep Indonesia Raya atau Melayu Raya yang dicantumkan dalam Wikipedia (yang pernah tercetus thn 1920), mungkin cukup membantu mengatasi permasalahan internal dan eksternal di Indonesia dan Malaysia, meski tidak dalam satu negara. Lihat EU, ketika terbentuk, masing-masing punya egoisme tinggi. Tetapi sekarang, EU menjadi kelompok ekonomi kuat. Kenapa tidak dengan ASEAN, yang demokratis, yang berwawasan dan berbudi luhur, tetapi tetap satu termasuk Malaysia dan Indonesia?
BTW, terimakasih rekan-rekan yang berkomentar di posting ini. Kalian tidak saja membuat hati yang marah ini menjadi padam dan tersenyum. Kalian tidak seperti orang-orang Malaysia dan Indonesia di luar sana yang suka menghujat, memaki, rasis, dan menghina satu sama lain. Salut untuk kalian.
Sedemikian saja komentar saya. Saya doakan Tun umur panjang dan sehat. Salam saya Radityo dari Jakarta, Indonesia. Selamat merayakan hari kemerdekaan Malaysia! Hidup Indonesia dan Jaya Malaysia. God Bless U.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Yang berbahagia Tun
Saya bangga mempunyai seorang pemimpin yang mempunyai gagasan dan pandangan yang begitu jauh kedepan untuk kesinambungan masyarakat Melayu walaupun sudah berusia.Saya dibesarkan dalam era kepemimpinan Tun dan saya berterima kasih dengan apa yang Tun telah sumbangkan kepada anak dan cucu Tun yang sedang membesar sekarang ini.
Masih terpahat disudut hati saya terhadap bantahan yang dibuat oleh manusia yang tidak berwawasan semasa Tun mencadangkan untuk pembuatan kereta tempatan,jembatan Pulau pinang dll.Nyatanya sekarang siapa yang menggunakan kemudahan tersebut,tak lain dari anak cucu bahkan mungkin masih terdapat manusia yang tidak berwawasan itu yang menggunakannya.Teruskanlah dengan nasihat Tun krn saya masih mahu lagi membacanya.Semoga Tun dan ibunda selalu dalam lindungan Allah swt.Amin.
tun,
i am a malaysian medical student in unhas, makassar. first of all, as a person who have been living in makasar past 5 n half years..i would like to say...that cost of living is higher here than in malaysia for students like us. second people r not as friendly to us. the doctors n lecturers always pester us with every issues involving indonesia such as ambalat, or manohara or if any maid gets beaten in malaysia. there ispractically no education here. we r slaves in the hospitals...who work as attendants. that is why the quality of the msian students graduating from indonesia is so poor. the overcharge the fees for us. the reality is far from wht it seems. i have never regreted anything more in my life more than coming to this place. i have drained all my dad's money n coming home witha paper called degree which has no true value..i will be working as a stupid doctor..n will be a major contributor in malpractice cases in malaysia.
Assalamualaikum Tun.
Saya sememangnya cukup berbangga dengan darah Bugis yang mengalir dalam darah saya. Saya banyak membaca cerita dan juga buku-buku berkaitan dengan etnik Bugis yang terkenal dengan kekentalan semangat dan pantang menyerah. Saya sentiasa menyemai semangat itu dalam saya meniti hari-hari mendatang. Saban hari juga saya mencuba menyerap semangat berbangga dengan budaya dan bangsa kepada anak-anak didik saya dalam mata pelajaran yang saya ajar iaitu sejarah. Walaupun saya tahu anak-anak didik saya 80 peratus berketurunan Tionghoa tetapi itu tidak menghalang saya untuk bercerita dan berkongsi segala ilmu yang saya ada dengan berkobar-kobar. Saya sememangnya sangat beruntung lahir di bumi bertuah Malaysia dengan darah Bugis mengalir deras dalam diri saya yang menjadi nadi dalam menggerakkan hidup.Hidup..Malaysia..hidup Bugis. Pandangan dan coretan pena Tun menyemarakkan lagi api untuk saya teruskan hidup dengan bermaruah.
DEAR REVERED TUN,
HAVING READ YOUR "MAKASSAR". I AM INDEED SO THANKFUL AND GRATEFUL TO YOUR OBSERVATION WHICH ONLY STANDS TO REITERATE THAT ALL OF US ARE FROM THE UNIVERSAL LAND OF OUR CREATOR, ALMIGHTY GOD.
WE ARE FROM SOMEWHERE BUT WE ARE, IN GOD'S GOOD WILL AND PLEASURE, WE ARE IN MAlAYSIA AS MALAYSIAN FOR ONE AND ONLY ONE REASON.....
THE UNITY IN DIVERSITY WITHIN THE GRACE AND LOVE OF GOD HAS TO TO BE FURTHER EDIFIED AND SANCTIFIED TO BE HIS WITNESS IN THIS REGION.
COULD YOU BE THE ONE WITH THIS PROPHECY MESSAGE FOR US THE MALAYSIANS ?
THANK YOU TUN.
AS OUR "BAPA MODERN MALAYSIA" YOUR FORETHOUGHT OF THE FUTURE IN THE PRESENT WILL MAKE GOD GIVEN LAND A BETTER PLACE.
SERVANT
Salam YABhg Tun,
start text - By ron dilla on February 9, 2010 9:08 PM
greetings Tun,
1. i can't help but feeling hatred for any bugis.
2. here at kalimanatan timur, i lose a step brother to these scumbag.
3. it's common knowledge that they run prostitution dens, push drugs, murderers, deal with contrabands, anything illegal, they will do it.
4. the dayaks are too meek to face them because they are those we call here , "crazy seafarers", they will sail their sampan from sulawasi to kaltim.
5. pardon me, when u see a knife bearing indonesian in sabah, it' a bugis none other - end text
kepada encik ron dilla, jangan lah membenci secara general hanya kerana satu dua kes terpencil, mana bangsa dalam dunia ni takde orang jahat?
kalau mengikut sejarah pun, suku melayu bugis lah yg berani sanggup mati mempertahankan kerajaan melayu yg sedang diserang oleh penjajah belanda dan juga inggeris, yg mahu mengambil kesempatan. ketika kerajaan Johor Riau lemah akibat perbutan kuasa selepas kemangkatan Sultan Mahmud kedua yg mangkat dijulang.
sudah itu, ciri2 mereka, kita ambil yg baik ajelah. yang buruk kita ketepikan.
greetings Tun,
1. i can't help but feeling hatred for any bugis.
2. here at kalimanatan timur, i lose a step brother to these scumbag.
3. it's common knowledge that they run prostitution dens, push drugs, murderers, deal with contrabands, anything illegal, they will do it.
4. the dayaks are too meek to face them because they are those we call here , "crazy seafarers", they will sail their sampan from sulawasi to kaltim.
5. pardon me, when u see a knife bearing indonesian in sabah, it' a bugis none other
assalamualaikum TDM
Saya nak komen sikit pandangan By EAH on January 28, 2010 10:22 AM.
Sebelum menang semua nak buat. Bila dah menang ... macam2 alasan. Sebagai contoh, dulu PAS kata kalau menang nak tutup kilang arak kat negeri selangor. Hah... sekarang dah menang ... menang pulak bila bersekongkol dengan orang2 kapir, so kenapa kilang arak tu masih tegap berdiri kat tepi federal highway. Meleleh air liur bila menghidu haruman arak yang sedang di masak bila melintasi laluan itu. Cakap tak serupa bikin. Dulu kata orang UMNO berkawan dengan orang bukan islam = Kafir, so sekarang diorang (PAS) berpayung dengan orang kapir di panggil apa pulak.
satu lagi... ingatlah...kalau PKR memerintah ... hak orang melayu akan terjamin? Lupakan. Sedangkan Datuk Khalid (MB Selangor) dulu ada menyuarakan UiTM mesti di buka untuk orang bukan Melayu. Apa maksud semua ini. Begitu jugak di Pulau Pinang. Semua kontrak kerajaan negeri berdasarkan meritokrasi dan kekukuhan kewangan. Apa maksud ini. Read between the lines my dear. PKR fights for the kesaksamaan berdasarkan meritokrasi. And the only people who have all these are the Chinese ... and they have far from us.
Cakap memang senang. Ingat, kalau PKR memerintah... semua yang ada berkenaan dengan orang melayu akan di hapuskan. They have to do it in order to maintain their popularity amongst the non-malays. Thats what happenning now. Look at their stand with regards to the use of "Allah" in the christian bulletin. Ingat tu. jangan ingat apa yang di sebutkan dalam artikel anda akan menjadi realiti.
And for the UMNO, control sikit harga barang. kenaikkan harga barang keperluan yang tidak dibendung merupakan salah satu faktor kejatuhan UMNO (BN) dalam pilihan raya yang lalu. Rakyat marah and that includes me. Nak menang - Help the rakyat.
Tima Kasih TDM and semoga sentiasa di bawah perlindungan Allah SWT.
YBhg Tun, saya doakan YBhg Tun dan keluarga selamat dan sejahtera dan panjang umor.
Perdana Menteri kita ka Makassar, mestinya di tunggu2 oleh rakyat di sana kerana beliau adalah juga berketurunan Bugis. Kita nampak dari berita, memang beliau diberi sambutan yang amat membanggakan dan bersama yang menyambut beliau ialah Gubenurnya.
Natijahnya, kita mahu hubungan baik diantara rakyat wilayah ini dengan rakyat Malaysia akan sentiasa baik. Hubungan baik ini bukan setakat hubungan Kerajaan dengan Kerajaan, tetapi biarlah dari segi keseluruhannya, termasuk pembangunan. Samada pembangunan pembelajaran, pertanian, kebudayaan dan lain2.
Dengar cerita, makanan disana murah dan sedap. Penginapan pun murah dan selesa. Mungkin rakyat kita suka kesana, kerana sekarang telah ada penerbangan terus dari Kuala Lumpur-Makassar-Kuala Lumpur.
Salam Tun and bloggers,
to zulkiflee bin arip, from what i read the malays came from mainland of china.i do believe it.
Salam Tun,
Dari ingatan saya ini bukan pertama kali Tun mendapat sambutan hebat yang ditunjukkan oleh rakyat Indonesia ketika berada di negara itu.Apa yang saya dapat tahu dari kawan saya yang kebetulan menginap di hotel sama dengan Tun, ketika Tun menghadiri pengkebumian Pak Suharto, bekas presiden Indonesia.Kawan saya terkejut apabila melihat banyak sekali motosikal mengiringi Kenderaan Tun pergi dan balik hotel dari tempat pengkebumian, walhal Tun bukannya mewakili Kerajaan Malaysia. Kawan saya bertanya kepada salah seorang dari mereka,kenapa bagitu sekali hebatnya penghormatan yang diberikan kepada Tun, jawapanya Pak Dr Mahathir telah banyak memberi bantuan dan pertolongan kepada rakyat Indonesia.itu sajalah yang hendak saya cerita pak.
Akum Tun,
Saya telah beberapa kali ke bandaraya Makassar,Sulawesi atas urusan keluarga tapi saya lebih suka sebut Ujung Pandang nama aslinya.Dalam konvekesyen 2007 atau Wisuda di Universitas Hassanuddin mereka memuji Malaysia yang maju dan minta mahasiswanya dan siswazahnya mencontohi bagaimana Malaysia moden di bangunkan dalam masa yang bagitu singkat!Ini mungkin apa yg telah dimulakan oleh Tun,syabass!Kita merasa amat bangga. Sememangnya makanan nya amat murah terutamanya makanan laut dan sup kikil atau keting lebih kurang macam gearbox disini dan sudah tentunya halal berbanding dengan Bali kerana hampir 100 peratus keturunan Melayu/Bugis Islam.Laut Ujung Pandang juga boleh menjadi syurga kepada kaki pancing!
Assalamualaikum w.b.k.t
Yang Amat Berbahagia Ayahanda Tun Dr Mahathir dan Bonda Tun Dr Siti Hasmah
Terpanggil sekali lagi untuk berkongsi dengan pembaca kenyataan Ahli Parlimen yang juga Naib Presiden Pas Datuk Mahfuz Omar. Pembangkang bukan entiti 'supplimentary' dalam pentadbiran negara. Ayahanda Tun sendiri pernah menegaskan perlunya pembangkang sebagai 'check and balance' pemerintahan. Pembangkang juga warganegara, mempunyai semangat juang dan cintakan bumi bertuah Malaysia. Antara mereka bukan calangan dan sembarangan orang terdiri dari golongan cerdik pandai pelbagai bidang. Mereka mempunyai cadangan dan idea terbaik yang sering diluah dan dikongsi, bahkan tidak rugi jika dicoba diterap atau diguna-pakai kerajaan BN. Malangnya idea-idea bernas ini yang harus dilihat sebagai usaha kifayah membangun dan meningkatkan taraf ekonomi kaum Bumiputera dan rakyat Malaysia keseluruhannya seperti kemestian terbendung dan keciciran dek gara keegoan dan keangkuhan pemimpin UMNO (ramai antaranya cetek sekali ilmu dunia akhirat) yang sebati dibatasi fahaman kepartisan. Sungguh kejinya sifat Melayu yang berhabisan menentang sesama sendiri sudahnya nasib bangsa tergadai! Lama lagi kah mampu Melayu Kelantan, Terengganu, Pahang, Johor, Melaka, Negeri Sembilan, Selangor, Wilayah Persekutuan, Perak, Kedah, Pulau Pinang, Perlis, Sabah dan Sarawak boleh bersama bersekutu malah mesra berpegang ukhuwah bersaudara dalam majlis-majlis Maal Hijrah, Maulidur Rasul, Israk Mikraj, Tadarus Ramadhan, Hari Kebangsaan, Eid Fitri dan Adha dan banyaknya lagi aktiviti kemasyarakatan saudara Muslim?
Emer Ahmad Hafizal
emerhafiz@hotmail.com
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Menganggap MeCD adalah proksi strategik untuk mengkayakan segelintir pihak atas sensitiviti Melayu, beliau mencadangkan sesuatu kementerian yang lebih komprehensif bagi menggantikan MeCD demi mengukuhkan keyakinan rakyat majoriti, iaitu Bumiputera bahawa Pakatan Rakyat bersedia menggantikan Umno dalam Pilihanraya Umum Ke-13 (PRU-13) kelak.
“Bumiputera dan Melayu masih dilihat menyokong Umno disebabkan ada kementerian sebegini (MeCD) walaupun dilihat gagal memperkukuh ekonomi Bumiputera.
“Kalau kita nak menggantikan Umno, maka tidak salah kita menawarkan sesuatu yang lebih baik (dari MeCD) demi meyakinkan kaum Bumiputera kerana mereka juga (adalah) rakyat yang harus dipedulikan," katanya.
Sehubungan itu, Mahfuz mencadangkan, Pakatan Rakyat menawarkan Kementerian Pembangunan Bumiputera (KPB) bagi memperkasa ekonomi Bumiputera.
“Langkah pertama, Mara (Majlis Amanah Rakyat), PNB (Permodalan Nasional berhad) dan Tabung Haji (TH) perlu diletakkan di bawah KPB kerana penubuhan institusi tersebut hasil semangat (dari) Artikel 153 Perlembagaan Persekutuan,” jelasnya.
Kaedah Pengurusan dan Pengawasan
Menurut beliau, suatu mekanisme pengawasan diperlukan untuk memastikan pengurusan ala Umno tidak berlaku dalam ketiga-tiga pentadbiran Syarikat Berkaitan Kerajaan (GLC) tersebut.
“Kalau calon Pengerusi (CEO) dan Ahli Lembaga Pengarah GLC tersebut dicadangkan oleh Perdana Menteri atau badan Eksekutif, tetapi perlu saringan temuduga oleh Jawatankuasa Pemilihan di bawah Parlimen dan kemudiannya diperkenan (lalu) dilantik oleh (DYMM) Yang Dipertuan Agong; adakah akan wujud kronisme dalam kepemimpinan tertinggi GLC ini,” soal Mahfuz.
Jelasnya lagi, perlantikan secara eksklusif yang melibatkan satu-satu pihak sebagaimana yang diamalkan oleh kerajaan Umno dilihat (rakyat) seolah-olah menjadikan GLC sebagai ‘telaga duit’ untuk kroni-kroni tertentu sahaja.
Kesan berantai pada pengurusan tidak cekap tersebut, menurut Mahfuz mengakibatkan wawasan negara untuk meningkatkan produktiviti rakyat melalui pengurusan yang komprehensif gagal dicapai walaupun Dasar Ekonomi Baru (DEB) diperkenalkan lebih tiga dekad yang lalu.
Sehubungan itu, kepemimpinan yang ‘anti-kronisme’ tersebut perlu terus memberdayakan ‘serampang dua mata’ MARA; iaitu (1)Memberdayakan pendidikan Bumiputera; dan (2)Merapatkan jurang sosial antara Bumiputera dan bukan Bumiputera.
Menurut Mahfuz, MRSM perlu diperbanyakkan untuk memberi peluang yang sama untuk Bumiputera mengubah taraf hidup mereka melalui pendidikan.
“Kalau kita ada 222 Parlimen di Malaysia, apa salahnya diperbanyak lagi MRSM khususnya di kawasan perdalaman (termasuk) di Sabah (dan) Sarawak supaya Bumiputera (seperti) Kadazan (dan) Dayak juga boleh menikmati peluang pengajian yang lebih baik (untuk) mengubah hidup masing-masing,” jelas Mahfuz.
Tambahnya, Institut Kemahiran Mara (IKM) dan Politeknik Mara juga perlu diperbanyak supaya tenaga mahir dan separa mahir dari kalangan Bumiputera turut boleh dipertingkatkan.
Ditanya tentang kaedah menjana pendapatan Mara untuk menampung kos-kos pelaburan ‘modal insan’ tersebut, Mahfuz mencadangkan suatu tranformasi dilakukan pada pada sistem pemilikan ekuiti Bumiputera.
“Dalam DEB, pemegangan 30 peratus saham di setiap syarikat yang disenaraikan (dalam) Bursa Saham Malaysia (BSM) mesti dimilik oleh Bumiputera (iaitu) kroni-kroni tertentu sahaja diberikan peluang menguasai ekuiti tersebut.
“Mengapa tidak 30 peratus ekuiti Bumiputera tersebut diserahkan (secara) langsung kepada MARA untuk tujuan pendidikan...itu lebih telus dan menutup peluang (mereka yang terbabit mengamalkan) kronisme,” ujarnya.
Menurut Mahfuz, pemilikan 30 peratus ekuiti Bumiputera secara persendirian itu merugikan Bumiputera secara kesuluruhannya.
“(Pada tahun) 1984 hingga 2001, kerajaan telah memberikan RM52 bilion (berupa) saham kepada Bumiputera, tetapi sekarang ekuiti tersebut hanya tinggal lebih kurang RM2 bilion sahaja,” jelasnya.
“Kalau Mara diberikan (secara) langsung 30 peratus ekuiti tersebut (dari) Bursa Saham Malaysia, tidak cukup lagikah untuk menampung kos pendidikan dan biasiswa...pemilikan tersebut tidak lari ke mana-mana.”
Jelas Mahfuz, punca berlakunya pengucupan ekuiti tersebut dipercayai umum disebabkan oleh sikap kroni-kroni terbabit sendiri apabila mereka sanggup menjual saham persendirian masing-masing kepada pihak yang ketiga untuk menjadi ‘Jutawan Segera’.
Perkasakan Tabung Haji menjadi Baitul Mal Nasional Sdn. Bhd.
Berhubung cadangan meletakkan Tabung Haji (TH) di bawah Kementerian Pembangunan Bumiputera (KPB) pula, Mahfuz mencadangkan badan tersebut diberdayakan menjadi Baitul Mal Nasional Sdn. Bhd. untuk menguruskan hartanah umat Islam di Malaysia.
“Tabung Haji tidak boleh lagi terus menjadi syarikat pengurusan Haji semata-mata sejak tiga dekad lalu lagi. Tabung Haji perlu diperkasakan (menjadi) Baitul Mal Sendirian (Berhad) untuk urus hartanah umat Islam,” jelasnya.
Beliau turut mencadangkan TH memanfaatkan sektor perlancongan yang sedia ada dengan membina rakan kongsi strategik dari kalangan agensi-agensi pelancongan Bumiputera.
Melalui fungsi baru TH, sedikit banyaknya mampu melaksanakan aktiviti kebajikan dalam kalangan rakyat, khususnya umat Islam.
Rombak Permodalan Nasional berhad (PNB)
Melalui Kementerian Pembangunan Bumiputera, PNB pula dicadangkan untuk memberdaya bidang keusahawanan masyarakat Bumiputera.
“Kalau MARA menumpukan soal pemerkasaan ‘modal insan’ melalui bidang pendidikan, PNB perlu memperkasakan tahap hidup bumiputera secara keusahawanan,” jelasnya.
“(Fungsi) Tekun perlu dinilai semula, sekiranya PNB sudah cukup untuk menguruskan pinjaman kepada usahawan bumiputera secara adil.”
Menurut Mahfuz lagi, PNB seharusnya sebagai penjaga amanah (Custodian) kepada segala perbendaharaan, seperti Amanah Saham Bumiputera (ASB) yang menjadi milik bersama Bumiputera.
Peranan ‘Pemegang Amanah’ ini sekaligus mampu meningkatkan saham Bumiputera dalam Bursa Saham Malaysia kelak kerana tidak ada campurtangan kaum pemodal dalam pemilikan saham-saham tersebut secara persendirian.
Yakinkan rakyat dengan model pengurusan
Bagi Mahfuz, rakyat perlu diperkenalkan dengan model pengurusan yang lebih baik, supaya mereka lebih yakin bahawa PAS serta Pakatan Rakyat layak mengantikan Umno dan BN dalam PRU13 kelak.
“Kementerian (Pembangunan Bumiputera) ini adalah suatu cadangan, seluruh pemimpin Pakatan Rakyat dan PAS sendiri boleh berbincang dan menolak sekiranya tidak sesuai.”
“PAS dan Pakatan Rakyat seharusnya mengemukakan suatu model pengurusan yang lebih baik, ‘anti-kronisme’, tolak nepotisme dan berintegriti, supaya rakyat boleh yakin dengan kemampuan kita untuk menjadikan Malaysia (sebagai) sebuah kerajaan (yang) kebajikan berbanding Umno (dan) BN,” jelasnya.
harakahdaily.net
27 January 2010
Well done YABhg Tun
Dear Dr. Mahathir,
It’s interesting to know that Tun Razak and Dato Seri Najib originally came from Makassar-Indonesia. It’s also interesting to know that Tun Badawi’s wife is originally from the Philippines, and some of the Malaysian Sultans family members are married to foreign wives.
This indicates clearly that the People of Malaysia welcomes people from different background in Malaysia as long as those people are loyal, committed and well respect Malaysia.
Unfortunately, the Malaysian regulations is not welcoming to foreigners married to Malaysian (I call them the black people of Malaysia and I am one of them).
The Malaysian rules allow those black people to live in Malaysia. However they will be granted a spouse visa which has to be renewed annually with no clear indication if they can get the Malaysian permanent residence (PR). The Malaysian regulation just states that people who lived in Malaysia for more than 5 years are allowed to apply for Malaysian PR but that does not mean they will be granted the PR.
But many of those black people were unable to get the PR, although they have been living in Malaysia for more than a decade and well established their family in Malaysia. That’s because Malaysia does not have a clear regulation to grant those people the PR, nor set certain criteria for those people to fulfil to enable them to obtain the PR states.
Recently, the Malaysian government issued new rules which do not allow foreigners, including the above mentioned black people, to buy properties with a value less than half million ringgit, making their life more difficult, taking in to consideration that they do not have sufficient budgets to pay for such a property, although this house will be the family house for their Malaysian spouses and children. I do understand that this rule is set to serve the Malaysian economy. However, it will have a negative social impact on the black people families. Perhaps the government would have considered the black people conditions and circumstances, by allowing them to buy only one property with a value less than half million for their families.
It is worth mentioning that the Malaysian government welcomes Malaysians married to foreigners whom they lived and worked overseas (especially in developed countries) for more than 5 years as professionals to return to Malaysia and upon their return to Malaysia, their foreign spouses will be granted PR within 6 months.
I do not understand why the above rule does not apply to the foreigner (married to Malaysian) whom they have high postgraduate qualifications (from top class Universities) and worked for more than 5 years as a professional in well known international organizations.
I can assure you that many of the above mentioned black people hold more than 2 postgraduate qualifications and they can easily get a job in Malaysia.
Many of the above black people are in fact living in countries (citizens) that provide them with social benefits (free medical treatment, retirement any many other social benefits). However, they still would like to take their Malaysian spouses back to Malaysian and live there.
I am not bringing this issue for personal reasons. But I do believe that this issue will have negative social impact on Malaysian society if it is not solved
I met many Malaysian whom they ask me to move to Malaysia and live and work there (to benefit Malaysia since I am well qualified person). When I told them about the rules in Malaysia for foreign spouses, they were surprised (even shocked).
I do believe that The Malaysian Government need to review their rules regarding the Malaysian foreign spouses.
Dear Tun,
You are right about Makassar. I have been there many times. There are a lot of opportunity mainly in the mining sector. Abundant reserves in gold and other metals. Last year was a gold rush in Bombana, Sulawesi. I wish local bank in Malaysia would support and give financial assistant to Malaysia who wish to expand their business especially in Mining. Salam.
Mdrose
Dear Tun, salam mesra harap sihat sejahtera. Minta izin menjawab beberapa pengulas kiriman saya. Dgn izin...
> 'Zulkiflee Bin Arip' on January 26, 2010 10:43 PM. Terima kasih krn masih membaca walau benci.
.............MENGKASAR DI MAKASSAR
Saya putar belit untuk menyaingi kiriman sama yg putar belit dlm blog ini. Kamu tak nampak tiap tiap tajuk Tun sentuh, ada kiriman anti orang asing dan syak kaum? Bila saya ikut mrk, kamu tak tahan. Irama bangkit pada yg diseru, nada perit bagi yg dituju. Tulisan mrk irama untuk kamu?
Kamu menganjur, menyeru bangkit melawan boleh, saya ajak orang berfikir terkutuk? Tentang kredibiliti, Tun lebih yakin dari kamu yg hanya tahu cepat marah. Malahan Tun sendiri alu pembangkang.
..............KENAPA
Tun pengkritik hebat US, Yahudi, Israel, barat. Itu benci mendalam mrk? Komen saya biadap, komen Tun tentang mrk itu kirim salam? Tun practices what he preaches. You have to learn and live with it.
.............RUMPUN DAN TALI
Orang tak iri hati kamu nak serumpun dgn siapa pun. Serumpun itu baik dan ajaran agama. Tapi jgn pula asyik dengki orang ada tali konon dgn negara asal, middle kingdom dll. Saya menunjukkan talam dua muka setengah orang.
Saya menangkis pendapat serong beberapa pengirim, bukan benci negara, bangsa dan agama. Membenci sikap beberapa rakyat bukan tak cinta negara.
..............KETURUNAN
Kita semua lain asalnya. Kita bukan keturunan dari satu Tuhan?
> 'Zaid Onn' on January 26, 2010 4:42 PM. Terima kasih krn perhatian pada sdr baru ini. Sdr baru kenal, jadi mungkin salah faham.
.............LESSON FROM HISTORY
I take it you agree differences exist among brothers, serumpun also, not just with 'orang asing' only (istilah Zulkiflee Bin Arip)
Read properly, I did not glorify China or belittle M'sia. I am referring to attitudes of some M'sians. I did not accuse the Malay race, only the thinking of some of them. This blog is partly infested with them.
We love our country, we love the Malays but there are still some people who keep reminding us we are outsiders (e.g sdr tersebut di atas)
> 'HBT' on January 26, 2010 9:28 PM
.............CREDIBILITY OF CHARGE
Please don’t attract attention by using me to create controversy. Where in my posting did I say I don’t like Malays? On sharing know how, for the record I never believed in 'pauper thy neighbour' policy.
You can criticize me if such postings appear, but don’t make blind accusations in the meantime. I challenge you to find any posting containing such thoughts.
Assalamu'alaikum Tun,
apa juga topik yg Tun tulis pasti mengundang komen-komen yg berbau perkauman dari sebilangan orang asing.langsung tak ada baik sangka terhadap Tun padahal Tun adalah pemimpin atau bekas pemimpin Negara yg paling penting.nampak jelas kebencian orang-orang asing ini terhadap Tun begitu mendalam.apa saja yg Tun tulis akan mereka putarbelitkan untuk sampai kpd isu perkauman.itu taktik mereka untuk merendahkan kredibiliti Tun.
sebagai orang melayu,yg menyanjung tinggi kedudukkan pemimpin kita,saya amat marah dgn komen-komen biadap terhadap Tun yg disiarkan disini.tapi hormat saya terhadap Tun lebih besar dari marah saya terhadap orang-orang terkutuk ini.tentu Tun punya alasan yg lebih baik dari yg dapat saya fikirkan ketika menyiarkan komen-komen sebiadap s.tan dan kaum sejenis nya.
s.tan,untuk pengetahuan anda,orang Makassar bukan orang jauh.mereka saudara serantau kami.anda,walau sudah bercucu-cicit disini,anda bukan orang rantau ini.anda orang asing,AAAAH SSeng...tidak ada sebab anda hendak cemburu terhadap persaudaraan-kemesraan kami dgn saudara kami yg serumpun-sebangsa-seagama-serantau.kalaupun kami saling berperang,itu bukan urusan anda.jgn jadi ular berkepala dua konon nya,disatu segi ber-iya-iya benar mengaku rakyat malaysia tapi disegi yg lain menyokong apapun bentuk suara kebencian terhadap Malaysia.
nasihat ikhlas saya kpd anda,jadilah rakyat yg baik dan cinta pada negara.buat komen,tapi jgn dgn nada benci.sebab komen yg bernada benci akan hanya mendatangkan kebencian yg setara terhadap anda.dan berhenti lah dari menipu akal anda sendiri.di Malaysia ini tak ada apa cacat-cela nya selain apa yg diada-adakan oleh kebencian anda.(oops,saya setuju dgn anda tentang rahsuah yg diterajui Umno..).terimalah hakikat bahwa Nusantara,yg Malaysia berada didalam nya,adalah bumi Melayu lagi Islam.hiduplah dgn aman didalamnya,makan dan minum lah,bekerja dan berniagalah tapi jgn sentuh tentang kedaulatan.itu hak mutlak yg tak boleh diganggu-gugat.dan berhentilah menganggap diri-diri anda sebagai Columbus yg menjumpai Dunia Baru yg tak berpenghuni.
anda bukan Columbus,Malaysia bukan dunia baru.nusantara milik kami.dan orang melayu bukan datang dari mana-mana selain turun dari kayangan.orang melayu keturunan dewa yg di turunkan di Bukit Seguntang...so kita specie yg berlainan.anda ikut teori Darwin,kami ikut cerita betul dari hikayat Wan Empuk,Wan Malini dan kisah benar Demang Lebar Daun.
terimakasih Tun
Bismillahirahmanirrahim.
Salam Tun.
Cerita serba ringkas Tun mengenai Makassar amat menarik minat saya untuk lebih megetahui mengenai Makassar. Saya bersama rakan-rakan akan ke Makassaruntuk bercuti sambil merakam keindahan Makassar melalu kamera dan lensa kami. Kami amat berharap dapat menghasilkan gambar2 menarik di Makassar nanti dan membuktikan Makassar juga satu destinasi menarik di Negara rakan serumpun kita.
Ayahanda Tun,
May I....
//By Zaid Onn on January 26, 2010 4:42 PM//
The S..Tan and Ravi kind of Chinese and India Malaysians do not care about what happen in China and India because they are ignorant. Do you know why they do not like Malays? They were shaped by their own selfish tiny little brain, and this shaping has nothing to with Malaysians.
To them, they would never wanna share know how with Malays because they believe that by teaching the Malays, they will be swallowed by Malays one day. Both S..Tan and Ravi (including that macha pakpandir08) do not know sceince and mathematics in calculating human interest and intelligence. If the major race falls, minor races will fall too. If USA falls, the world falls. If the world choose a leader who loves wars, then WW3 will be triggered .....
You ask S..Tan, in mainland China, who is the GOD, and I bet he can never answer you because of inferior complex. The Karma in mainland China is Moaism.
What our PM Najib doing now is to bring wealth into the nation, but his Ministers do not trust and do not like him may be because he is Bugis Malaysian. He is working very hard in the hope that Malaysians will like him as the PM, will we trust him?
Good night Ayahanda Tun.
Salam YAB dan diKasihi Tun,
Artikel Tun ini membuatkan saya teringin untuk pergi melancong ke Makassar. Saya akan ambil kira Makassar sebagai tempat yang akan saya lawati; lagipun tambang taklah mahal sangat, dan makan-minum & tempat tinggal mesti agak murah.
IKLAN percuma untuk Makassar dan juga Air Asia.
Tun seorang yang baik hati & amat berjasa kepada ramai orang, dalam dan luar negara.
Terima kasih Tun. Saya amat menghargai jasa-jasa dan khidmat bakti Tun.
*** Saya doakan Tun sekeluarga sentiasa sihat sejahtera & dilindungi Allah SWT ***
Salam kasih dan salam hormat Ayahanda Tun. I could not contain my excitement over the news that Michael Schumacher would be driving for Team Mercedes Petronas “Silver Arrows”. The last time a victorious Silver Arrows had graced the racing tracks of F1 was in 1956 with the legendary Moss/Fangio team. The fact that there would be serious participations from Petronas Malaysia in the Silver Arrows efforts brings incredible pride to many compatriots both of the F1 and Jalur Gemilang. I am sure their entry into Sepang in April (I think) would be heavily anticipated and watched. This is the legendary Silver Arrows, and the green streak of Petronas has returned! I must convey my appreciation to you Tun in your capacity as Senior Petronas Advisor. I must also say cheer up to our friend Tony Fernandez principal of the Lotus-1 Malaysia F1 Team. Petronas going wholeheartedly into Mercedes and getting warm German hugs with Oktoberfest music in return, it sure seems like things just wasn’t meant to be for you Tony ol’boy. But I think that he should go ask if Lee Kuan Yew would be interested in becoming main branding partner to his 1Malaysia-F1 team. Better be quick before Sauber beats him to it! I am disappointed in our dear Tun Dollah for not writing a cable or something for dear Tony to peddle around. After all, there would be no AirAsiaX if Abdullah hadn’t become PM back then. A Kepala Batas humble kid once selling nangka fruits for school money and carrying bricks in his school bag to school, now proud owner of a whole Airbus fleet! Beat that Tun! That is no simple story there! Alas, what good would a cable from Tun Dollah be really? I have carried several before and the best I got out of it was covering my head from the rain running for quick shelter everywhere and making paper rockets out of the left overs. Remember our brother Shahidan Kassim and Idris Jusoh? Tun Dollah gave them cables, but “tak laku” with the Malay Rulers, first time in Malaysian history, the PM cable “tak laku!”. During his time the cables that were legal for tender were only from the AJK T4, and AJK T4 got input from home economic kitchen of Bellamy Road. Hari ini dalam sejarah indeed. But with the many AirAsia going into the pussycat city, Tony should hurry up and pitch sales before Sauber beats him to it. Khairy needs political mileage and we must make Kepala Batas and its twinning city Rembau proud. But on another hand, DSN should be thanking his lucky stars over how things had turned out with his premature 1Malaysia-AirAsia F1 hurrah. Don’t always trust blind the auto pilots DSN. IKIM should consider opening AirAsia ticket booth in Bukit Tunku there. Maybe they give free Hadhari tasbih on check in and boarding now at the LCCT? The ticket booth rentals would help with the bills and allowance for VIP golfing/goofing. And I have not gone into the fine exquisite connoisseur art of sommelier in the Klang Valley just yet here! My, my, what crooked nose you have father goose! I’m no saint, and am not bluffing I’m one, and you no angel too, but you are bluffing everyone into being one! I am still waiting on the IKIM interfaith thing. Faith into nothing, is better than no faith right Pak Lah? Any news on BERNAMA rotation yet Tun? Or is it DSN flying blind on auto pilot again? But this time we got parachute Tun! After this we see about TNB, and then we see about that no portfolio fax copier paper boy minister of theirs. All NKRA is futile till then.
Yes Makasar is the few last unspoilt sanctuary left. After reading your posting here, we have decided to make it a group trip there for the upcoming CNY. KIV on the flight details.
I wrote down this as reply for S.Tan comment in chedet.com;
The biggest question in my head is when he/she wrote the Chinese never attacked or conquered foreign country, but history proof Chinese always not good toward they own 'saudara' since ancient. History state very clears in every history book this ugly side of Chinese people in China mainland. About how Chinese fighting among them for power and glory. They even conspired to kill the king. Till today the story never ends. The latest is about Muslim Chinese in China, how the Muslim Chinese kill Han Chinese and Han Chinese kill Muslim Chinese, both party were Chinese. Never ever say China never disturbs foreign country until today China Mainland still claim Taiwan as part of China.
Nusantara or Malays in SEA different from Chinese, or I should say different from you. you should not touch this issue especially when your knowledge about SEA history are too little.
Before you come up with your brother's wars theory in Nusantara you should question first how 9 old Malays kingdoms can share the land of Peninsular of Malaysia before British come. Long before British come to Malays Islands in SEA. We shared power and land, and that is what we were practicing now in Malaysia.
You think too big about China unfortunately you has no info about her. Read more. You should learn how to love your own country more than your ancestor land. Malays always say 'di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung'.
Malays in Malaysia never deny fellow Malaysian Indian and Malaysian Chinese rights but it is very hard too work things out if you guys keep remind us that you guys are outsider whose came from China and India.
Ybh Tun,
Terima kasih kerana berkongsi maklumat yang baik. Semua tahu PM adalah keturunan Bugis dan saya rasa ada juga Rajah atau Sultan kita keturunan Bugis,harap betul kalau silap dan maaf ya.
Bagi saya,keturunan atau kesukuan hendaklah di elakan untuk di bangkitkan di negara kita ini. Biarlah kita di panggil bangsa melayu tanpa mengira apa suku kita.Kerana jika suku-suku atau kaum-kaum dalam bangsa melayu ini di marakan saya kuatir ia akan mengundang bahaya ia itu perpecahan di kalangan suku-suku melayu ini, dan sudah tentu ia akan menjadi ruang kepada musuh-musuh melayu untuk meruntuhkan perpaduan di kalangan suku-suku melayu di malaysia yang hari ini sudah kelihatan goyah akibat perbezaan fahaman politik.
Apa jadi nantinya, suku bugis dalam parti A , suku jawa dalam parti B, suku bajau/suluk dalam parti c, suku kadazan-murut-dusun dalam parti d dan sebagainya, dan parti kaum pendatang atau bukan bumiputera dalam satu parti sahaja.Bila pilihan raya sudah pasti kita dapat ramalkan apa hasilnya.
Ybhg Tun, untuk kepentingan orang Melayu saya rasa soal suku-suku ini usah kita biarkan di ungkit dan jangan biarkan suku-suku dalam bangsa melayu ini menubuhkan persatuan suku-suku masing-masing.
Yang lain-lain saya tak nak komen.Biarlah ini sahaja.
I have the previlege of visiting Makassar recently, just a few days before YAB Datuk Seri Najib, our PM made his visit there. Air Asia has made accessible many less wellknown destinations like this city to Malaysians and in the near future, to other nationalities who transit in KL. Makassar and Sulawesi on the whole are well endowed with natural resources-minerals, food products like rice, meat and fish. It has many beaches and the seas rich in marine resources. The sea weed industry is flourishing. Its surplus rice and meat would certainly something that Malaysia can import to meet its deficiency. Besides its rich natural resources coupled with friendly people rich in culture and handicrafts, good hotels and safe to move around, make the city a potential destination for tourists.
Indonesians are one of the most patient people I have ever met. I don't know about Makassar (maybe I will visit soon), but other parts of Sulawesi, Java and Sumatra also have their qualities and good bunch of people.
YABhg Tun and everyones, Aga gareba! hihi
Itu sahajalah antara bahasa bugis yg masih saya tahu. Hehe...
Kepulauan ini kita semua sudara (bersaudara) dan sepatutnya bekerjasama untuk kemakmuran bersama-sama.
I agreed with what S...Tan has written here, it's a;ways not others who attack us but among us brothers always quarrel until we are weakened by ourselves for others to come in.
Fairuz bin Kamarulzaman
Jika kita menyusuri sejarah, org Bugis memang dekat di hati org Melayu di Tanah Melayu khususnya di Johore dan Selangor. Betapa hebatnya mereka di laut dan di darat membantu kesultanan Johore.
O, leaders of the day. We take levy from millions of legal migrant workers - Indonesians, Bangladeshis, Nepalese, Indians, Vietnamese, Filipinos etc for what? MONEY. MONEY. That's all.
Give them their due of basic welfare governance for what we do to them good or bad will get back to us sooner or later. As how best to formulate and run it is not difficult for we have the various ministries and agencies to work together.
The trust was given to you and you will answer that to Allah.
Salam Tun,
Dan sememangnya kita ini serumpun. Penjajah British dan Belanda yang memisahkan bangsa serumpun menjadi Malaysia - Indonesia. Maka generasi baru hari perlu belajar sejarah bahawa Malaysia-Indonesia itu adalah SATU dan sentiasa mempunyai pertalian dan persamaan dari segi Bahasa, Budaya dan Adat Resam. Dulu dunia melayu dikenali sebagai Malay Archipelago (Kepulauan Melayu). Tapi hari ini kita dikenali dengan nama Malaysia, Indonesia, Mindanao, Christmas Island, Timor Leste, dan Singapura.
Assalamualaikum warahmatullah dan salam sejahtera,
Salam Ayahanda Tun Mahathir dan Ibunda Tun Siti Hasmah salam kasih, salam sayang, salam segala,
Salam Allahyarham Tun Razak salam mohon dicucuri rahmat khudrat irodatNya,
Salam Dato Seri Najib salam perpaduan salam 1 Malaysia,
Salam semua sahabat handai salam buhul tali persudaraan,
Salam kawan dan lawan salam mohon restu turun gelanggang,
Salam MAKASSAR salam sayang kepada keluarga yang lama hilang,
Salam PUTRAJAYA salam permulaan kepada segala salam-salaman,
Salam antara PUTRAJAYA dan MAKASSAR tak ada apa bezanya salam,
Salam PUTRAJAYA-MAKASSAR Kota PERPADUAN Kota PERSAUDARAAN,
Salam PUTRAJAYA-MAKASSAR salam jambatan baru yang bakal dibuka,
Salam PUTRAJAYA-MAKASSAR moga lembaran baru ini terbina,
Salam PUTRAJAYA-MAKASSAR 2020 impian yang bakal terlaksana.
PUTRAJAYA-MAKASSAR 2020.
Salam hormat.
Salam Tun,
Perhaps we should consider the IMB proposal by Dr Bakri Musa in his 'Towards a Competitive Malaysia' given that the 3 nations share similar language, religion and culture. In his words 'Malaysia could potentially lead the greater Malay world through IMB and then be a model for the Muslim world in demonstrating the compatibility of Islam with modernity. Malaysia is also ideally positioned to bridge East and West, as well as the West and the Islamic world.'
This is a soothing news. Unfortunately, there is an E-tard who keeps clowning around with his tom-fool comments on this blog.
Assalamualaikum Tun.
Bekas orang PKR kata Raja Petra lebih licik dari Datuk Seri Anwar Ibrahim. Sebab tu dia dapat loloskan diri dari Malaysia dan jadi penasihat kepada Datuk Seri.
Antara artikel terakhir yang terkandung dalam www.blog4pro.blogspot.com milik Raja Petra (sebelum diharamkan),beliau amat menyanjungi Tun Mahathir yang dianggap sebagai 'Master of Percepcy' dengan kata lain boleh dianggap sifu dan merupakan mentor kepada Dato' Seri Najib.
Ada orang kata Tun Mahathir lebih terer dari Dato' Seri Najib.Sebab Tun adalah mentor kepada Dato' Seri.Tapi kat sini Tun kata Dato' Seri berdarah Bugis.Jadi sekarang,saya ragu-ragu samada Tun lebih terer dari Dato' Seri.
Entahla.Tapi saya sudi cap jari ibu jari tangan kiri untuk Dato'Seri (kalau keje bank, cap ibu jari kiri tu untuk keluarkan duit ASB sahaja.Masuk duit tak payah cap jari).
Terima kasih Tun.
Thanks for the tips Tun. MAKASSAR here I come!
Inilah namanya Rumpun Melayu Nusantara, Seagama & Sebangasa.
Melayu itu hebat!
Assalamualaikum WBK Tun Dr. Mahathir & Fellow Bloggers,
I did my internship in Indonesia- in Jakarta to be exact. Throughout my six-month internship at The Jakarta Post, I was never put in isolation, though I hardly get their language in the first month. Indonesians are very friendly and helpful at the same time. Trust me, they treat Malaysians like their own sisters and brothers. Do not buy everything we heard from the mass media. I am not saying that the mass media provided us with inaccurate account of information (we should be thankful to the mass media as well), but the condition isn't that bad. Indonesia is a very nice place for almost all events. It'll not fail us, take my words. Malaysians especially will definitely love Indonesia :)
Good morning Ayahanda Tun,
Thanks for this piece of information, now only I know our PM Najib is a Bugis Malaysian. To me as long as he walks the talk for 1 Malaysia, it doesn't matter what is his race since he is the Warganegara Malaysia. I sincerely hope that our Prime Minister of Malaysia should know by now 1 Malaysia is not US, 1 Malaysia concept belongs to 1 Malaysians, Kings, King and the Nation.
In point 5, the perpective was created by the press media, and they are powerful (dulu, bukan kini). If the local press media(s) do not like or like you, they could do anything to bring you down or up, and even "osama" is up again after so many years hiding behind Bush.
The question is now why osama is up again in local press media? Is there a conspiracy? I won't use the word conspiracy now, it should be what is the "Agenda" of bringing osama up? Is it because Massachusset was won by USA Republican today after the death of Senator "apanama" Kennedy? Is it because Malaysia's 4th Prime Minister protects Gazans in Palestine?
I will never point my finger to Hanan, a Jewish from Israel, because the "osama thing" has nothing to do with him individually. Those who lied will be caught eventually, and for "TreeTop" thing, ANTHONG and the choir of twinkle2 little star better watch out because 1 Malaysians are no longer "NG OK".
Ayahanda Tun,
Fahrin today is the Loreal Man Expert Spokeman, Malaysia. He cried in the press conference...
//Fahrin Menangis Didakwa Panas Baran Dan Kaki Pukul
Oleh KEMALIA OTHMAN
Terlalu kecewa dengan dakwaan bekas kekasihnya Linda Onn yang dia kaki pukul, Fahrin menitiskan air mata. Pelakon terkenal ini juga minta Linda memohon maaf secara terbuka. Foto The Star Oleh Brian Moh.
SIKAP berdiam diri bukan lagi jalan terbaik bagi pelakon dan pengacara Fahrin Ahmad, 31, menghadapi segala kemelut kisah percintaannya.
Tindakan mengemukakan notis tuntutan dalam tempoh tujuh hari terhadap bekas kekasihnya, penyampai radio Suria FM, Linda Onn, merupakan jalan terakhir bagi Fahrin membersihkan semula namanya dari persepsi negatif masyarakat.
Dakwaan kononnya dia seorang yang panas baran dan kaki pukul dalam satu kenyataan Linda baru-baru ini merupakan tamparan hebat kepadanya sehingga dia terpaksa mengambil keputusan yang agak sukar itu.
"Keputusan ini sangat berat. Saya ambil masa yang agak panjang untuk membawa perkara ini ke mahkamah. Saya lebih suka berdiam diri, namun keadaan tersebut tidak dihargai.
"Apabila keadaan semakin tidak terkawal dan menjejaskan imej dan kredibiliti saya sebagai duta kepada tiga produk terkenal Shell, Celcom dan Garnier, saya rasa tiada jalan lain selain bagi amaran kepada dia (Linda Onn).
Fahrin terlalu sebak mengenangkan bagaimana dia diaibkan oleh dua orang bekas kekasihnya
Fahrin menzahirkan rasa kesal dengan dakwaan dia seorang lelaki yang panas baran. Pelakon drama TV itu turut mengakui, dia menghadapi tekanan emosi sejak kebelakangan ini kerana dakwaan itu.
"Kesan kenyataan itu sangat besar kepada emosi, kerjaya dan keluarga saya. Bayangkan bagaimana perasaan saya bila orang bertanyakan hal ini kepada ibu saya yang terlantar sakit di hospital?.
"Bagaimana jika saya nak berkahwin dan macam mana tanggapan keluarga perempuan terhadap saya? Bagaimana pula tanggapan produk-produk iklan yang ambil saya sebagai duta? Bagaimana dengan rezeki dan masa depan saya nanti?," ujar Fahrin sambil menahan sebaknya.
Namun Fahrin bersyukur, keluarganya tetap berdiri di belakangnya, memberi sokongan padu.
"Alhamdulilah keluarga saya kuat menerima dugaan ini. Saya tidak berdendam dengan mereka. Kalau boleh saya tidak mahu perkara ini dipanjangkan lagi," ujarnya yang berkali-kali berharap perkara ini tidak dipanjangkan.
Ketika ditanya tentang perkara-perkara buruk seperti yang didakwa dalam kenyataan penyampai radio tersebut, Fahrin berkata dia tidak seperti yang laporkan media dalam kenyataan tersebut.
"Saya sangat kecewa, saya tidak marah dengan mereka tetapi kenapa sampai hati buat saya begini. Kata saya kaki pukul, panas baran...., saya tidak macam itu," ujar pengacara Sehati Berdansa ini.
Dia turut memberitahu bahawa keburukan-keburukan yang diceritakan oleh bekas-bekas kekasihnya itu telah mengaibkan dirinya.
"Percintaan bersama Linda dan Scha Al-Yahya adalah dua percintaan yang berbeza. Jalan ceritanya juga berbeza tapi bila mereka sudah berkawan baik, mereka bercerita tentang keburukan saya. Cuba suruh mereka cari 10 kebaikan saya, mesti ada.
"Tapi saya tetap berbangga berkawan dengan mereka dan kerjaya mereka yang semakin meningkat," katanya.
Sedih bila keluarga turut menerima impak dari dakwaan tersebut.
Dalam pada itu, Fahrin turut mengakui serik untuk menjalinkan hubungan cinta dengan mereka di kalangan selebriti setelah melalui hal-hal sebegini.
"Mula-mula dulu saya anggap ini adalah jodoh. Tapi setelah apa yang saya lalui dan apa yang telah ditunjukkan tuhan, mungkin lepas ini bukan dengan rakan artis lagi," ujarnya mengakhiri perbualan.//
To Fahrin,
Get use to this gossip and just treat this drama as the path to Popularity which all artists in world will have to go through. Get over it and focus on your professionalism in deling with your career. Ex-President of USA, Bill Clinton, our MCA's Dr Chua SL and Mr Tiger Wood are more and more popular in Malaysia now after they gone through the darkest age in life.
Good day Ayahanda Tun.
Bumi Indonesia,Malaysia memang Indah.
Penuh hasil Bumi,penuh sinaran matahari,penuh air.
Reflexi gejala Rasuah,Attitude Pegawai Kerajaan dari Pihak Atas hingga Bawah yg menjadi titik hitam,titik kotor,
punca kelembabtan kearah kemajuan dan kekecewaan rakyat.
Kerajaan Malaysia,Indonesi mesti tumpukan perihal dalaman dahulu,
jangan hiraukan Dunia Luar sangat.
Meneliti setiap pentabiran badan Kerajaan dari step 1 hingga 10.
Setiap 1 step mesti ada peraturan dan cara,bukan suka mereka
mengikut kehendak pegawai,ikut cita rasa mereka.
Kerajaan adalah satu mechanisma yg penting dalam satu Negara.
Jika mechanisma Kerajaan ada screw yg longgar,gear yg patah,
minyak enjin kurang dan kotor,maka terlahirlah gejala rasuah dan
Kerajaan tidak berupaya menggendalikan Pentakbiran.
Satu contoh,kita bandingkan attitude pihak Immigration Singapura,berbanding dengan attitude Immigration Malaysia,Indonesia.
Merka begitu rapi memeriksa document,dengan mengenal pasti identiti.
Jika ada kesalahan dirujuk atasan,kita dirujuk tepi, ahem! ahem!
Punca Rasuah adalah kerana tidak tersusunnya Pentakbiran Badan Kerajaan,tidak ada proper training,attitude yg berwibawa,punca pegawainya ambil kesempatan,bukan kerana hasutan luar,lebih pada
jurangnya pentakbiran yg professional.
Kelemahan ini perlu diubah sebelum melangkang selanjutnya,
ini gagal maka selanjutnya pun gagal.Sudah terbukti banyak project Kerajaan Gagal disebabkan ini.Kena aturkan step 1 betul betul,barulah menlangkah step berikut.
We stand to gain much in having close relationship with Indonesia, the great land of thousand (of) islands with the largest Muslim population in the world. Under the current peaceful environment the country is fast developing yet the people maintain good traditional values and culture. For example, the town of Jatinangor close to Bandung and where the University of Padjajaran is located is much cleaner now than say 3 years ago.
The people are independently hardworking and creative and this contribute greatly towards the economy and development. They build on their own suraus, homes, irrigation of padi fields. With that huge population their rice is sufficient to feed themselves and even for export in certain years! We have to learn from them because we are still deficient in rice.
The Indonesian workers are contributing towards development here. It's ashame how we treat many of them, less than humane, with many cases of physical abuse. A maid was literally ironed and recently one got bundled up dead. This put us in a bad light of our relationship.
The relevant ministry should instituted proper guidelines and monitoring of their welfare be it at national, state and district levels. The workers are safely assured that whatever problems arise they report to such offices. A National Standing Committee to be estalished and regular reports published. We say much of human capital are they not part of it.
Who bears the burden of guilt (dosa) when Muslim maids work in restaurants and houses that serve pork? Behold the leaders of the day for you will answer that to Allah.
Maybe Malaysia should have joined Indonesia or at least be part of Malindo. China did not give LKY such a reception for forming the Republic of Singapore.
Dear YAB Tun, salam mesra harap sihat. Kiriman saya untuk seri tajuk ini dgn izin.....
............PEACE MISSION
After stirring many enemies with a series of articles, we have to make some friends now. But it had to be a tourism promotion which relegates Langkawi. Air Asia would not have existed without Pak Lah, and nobody would be able to fly to Makassar relying on MAS.
...........DEKAT ASING JAUH SAUDARA
The nusantara has seen many wars among 'brothers' since Sri Vijaya, Majapahit, M'cca Sultanate and Johor Sultanate. The Chinese have never attacked or conquered any foreign country. The 'brothers' have killed each other for centuries for power and land.
Proof that it is not colour of skin but colour of heart that makes people evil. Think before you concoct minority conspiracy theories.
............GOODWILL
The saudara Bugis are 6mil people out of 230mil Indons. The minority in M'sia is more than them. If we can extend a hand of friendship and goodwill across a sea to people who have done nothing for us, why is it difficult to extend some to people who have sacrificed in this country.
Dear Tun..
Salam hormat and may you be healthy always..
Wah..! Melancong sakan.. Wind of change is good. Jangan melencong sudah.. heheheh..
Especially when its cheap.. Define cheap to lay man.. ikan bilis and sardines..
Dah.. taknak kacau lah.. Now I'm doing the walk after the talk.. Not easy..
Easy to talk.. But Ask to walk the talk needs all to come together. Unless you would like to walk alone..
Separate path but all come to the same destination..
Today I am in Kedah.. Syok Oooo...!
Tukar angin.. Here its Angin Timur.. Padi dah nak masak...
Keep on bloging Tun.. I just takdan nak catch up buzy la cari makan kekal abadi. You fast laa.. But good.. Keep up the good amalans..
I see you have done well for the country and yourself.
Lets see if DSN have what it takes.. harap dia akan support la org baru, muka baru, idea baru..
Perjuangan memang belum selesai..
Doa ku untuk mu perdana menteri the best of the best so far.. May Allah bless you and your family.
Kuthe2
Al Salamu Alaykum Dear Tun Dr. Mahathir,
I am extremely happy that your have visited Indonesia and it appears , as usual, that you are aware of the traps being set for a Fitna between Malaysia and Indonesia from one side, Malaysia and Thailand from the other side.
Indonesia and Malaysia are family that have more in common than could possibly be mentioned. There is really no conflict between the Brothers in both counties. The Fitna is fabricated and is being executed by Israel, (Although Israel is not the brains behind it), Just like the Singaporean Arms and Security Industries, which are almost entirely built by Israeli firms and is reflected in their product lines. Singapore’s Arms industry is extremely sophisticated and the quality is good.
I hope one day Malaysia develop a sophisticated and advanced arms business, especially small arms, to replace the M4 and M16, and the AUG, Both the M4 and the M16, are absolutely garbage in Mud, Water, Rain and Sand. (No way), and the 5.56 NATO Caliber Bullett an absolute Joke in Jungle Warfare, just read the:
1- Congressional Research Services study : The Army’s M-4 Carbine: Background and Issues for Congress, By Andrew Feickert (August 3, 2009)
2- New York Times Article November 3rd, 2009 (The M-16 Argument Heats up Again) and
3-New York times Article November 2nd, 2009 (How Reliable is the M-16 Rifle)
4- Army Times: December 27, 2007 (Giving M4 failures an Alibi?
The Steyer Manlicher Austrian AUG is an excellent weapon, but the NATO 5.56 caliber is not for jungle warfare and the AUG was designed for ALIPINE warfare, which represent a complete different environment. Shooting in an Alpine Forest is different than a tropical Jungle. Having fired all three firearms, I am confident of what the articles and research above support. Anyway, I hope Malaysia manufacture its own small arms one day (Not through a license like the Colt M4) and adopts the 7.62 Caliber, which till today is proving extremely effective.
The Question is what does Singapore needs all these arms for!?!?!?!?!? Different toic for a different day, Just like the Sand-For-Chips (700 truck daily worth of) I think my Semiconductor Professor would have had a heart attack if I told him this load of *&T&^(). Having Said that I hope that only the best of relationships exist between Malaysia and Singapore (I am neither Malay or Singaporean, By the way)
Back to topic, There is really no conflict between Malaysia and Indonesia and None Should exist. But the greed of certain foreign nations to control the Shipping lanes and resources can not be quenched.
I have attached a few articles below to Illustrate. (Three are from the most right-wing Israeli Newspaper the Jerusalem Post)
I urge all fellow Muslims to watch out for the Fitna and its traps, because they are going to be sprung in the near to mid future.
Secret mission to Indonesia yields economic breakthrough
[Daily Edition]
Jerusalem Post - Jerusalem
Author: BUZZY GORDON
Date: Jan 25, 2001
Start Page: 14
Upon leaving Indonesia, [Reuven Horesh] attended a follow-up meeting with Israeli and Indonesian officials in Singapore, where Israel's embassy handles issues involving that country's neighboring states of Malaysia and Indonesia, which do not maintain diplomatic relations with Israel.
"Indonesia is the world's largest exporter of natural gas and is rich in mineral resources," [Dan Gillerman] noted. "The greatest potential for bilateral trade lies in Israel's exporting telecommunications and agricultural technology to Indonesia while importing raw materials, especially timber."
Israel already conducts limited trade with Indonesia. In 2000, Israel exported chemicals and electronic components worth $110m. to Indonesia, while importing goods valued at $20m. (primarily rubber and furniture).
Israel reaches out to world's largest Muslim nation with Indonesian- language Web site
[Daily Edition]
Jerusalem Post - Jerusalem
Author: ELLIOTT CAPPELL
Date: Dec 19, 2006
Indonesia, a country of over 200 million, has expressed a desire to play a greater role in the resolution of the Israel-Palestinian conflict. To that end, Indonesia committed a battalion to the UNIFIL peacekeeping force in southern Lebanon in August.
Interaction between Israel and Indonesia has grown, as evinced by Israel's eventual acceptance of the Indonesian forces and its sale of unmanned drone planes earlier this fall.
A quick Google search for 'Indonesia Israel' or a crawl through Indonesian blogs reveals a view of relations with Israel as not only immoral, but a violation of Indonesia's 1945 constitution, whose preamble expresses support for international movements of self-determination.
The legacy of a true friend
Jerusalem Post - Jerusalem
Author: COLIN RUBENSTEIN
Date: Jan 11, 2010
Start Page: 15
Almost uniquely among Muslim leaders and the heads of Muslim states, [Abdurrahman Wahid] was not reticent about his friendship for Israel and his close ties and desire for even closer ones with the Jewish people. He visited Israel a number of times and served on the board of the Peres Center for Peace. On becoming president, he announced a hope to open an Israeli trade office in Jakarta and hinted that Indonesia should eventually go further and seek full political relations with the Jewish state. But unfortunately, he met considerable domestic resistance which limited but did not prevent growing Indonesian contacts and links of various kinds with Israel.
TRADE AND people-to-people ties between Israel and Indonesia have steadily improved since that time, and, despite the political delicacy, many in Indonesia are interested in the potential for both trade and for Indonesia to play a more active role in the Middle East peace process. This is particularly in Israel's interest, given the potential of Indonesia as an economically viable, moderate, liberal and democratic Muslim country to help legitimize and serve as a role-model for any future democratic Palestinian state.
Meanwhile, even after leaving the presidency, Wahid continued to speak out. At a packed meeting in the University of Melbourne in 2002, I well remember him rebuking a questioner who criticized Israel by eloquently praising Israeli democracy. In 2004, he publicly stated on behalf of Muslims that "Israel has a reputation as a nation with a high regard for God and religion - there is then no reason we have to be against Israel." On Judaism, I can personally attest that he was both knowledgeable and highly interested in all aspects of Jewish tradition, beliefs, culture and literature. The study of Kabbala especially sparked his curiosity.
Author: Jurriaan Maessen
Tuesday, December 8, 2009
The life of Prince Bernhard von Lippe-Biesterfeld is littered with examples of weapons-trade, racketeering, bribery, plundering third world countries- and every other criminal activity under the sun. As a recently published book in the Netherlands reveals, the prince was also in the coup d’état business.
The publication ‘HRH: High Stakes at the Court of His Royal Highness‘ by historian Harry Veenendaal and journalist Jort Kelder reveals that Bilderberg-founder prince Bernhard in 1950 attempted to oust the democratically elected government of Indonesia and place himself at the head of the Islands as viceroy.
After careful investigation of both archived diaries of a court secretary and military police reports, the authors come to the conclusion that the prince coordinated the attempted coup d’état with the help of his cronies in the military. The trail of paper finally led the authors to multiple independently written statements from different sources confirming that the Bilderberg-founder had indeed set his sights on the islands, and for himself a coronation to become viceroy in the example of Lord Mountbatten’s viceroy-ship of India during the late 40s. A letter from the prince to general Douglas MacArthur, quoted in the book, reveals that Bernhard envisioned himself ruling over his feudal slaves as a genuine Napoleon.
Although by 1950 the former Dutch colony had already broken free from the stranglehold of colonialism, Bernhard and his buddies obviously desired another round of plunder, securing for themselves the rich natural resources embedded in the islands.
History would have it otherwise. The coup proved a miserable failure. But Bernhard, being a back-door power broker, would not relent. When he co-founded the Bilderberg group in 1954 he spun his web in such a way that the fat flies would be captured anyway. When the major Dutch captains of industry saw their interests in Indonesia under threat, they used their contacts with Bernhard at the annual Bilderberg meetings to secure them.
The prince learned his lesson after this failed attempt at overthrowing a government. Not by directly coordinating the violent overthrow nor leaving a clear trail would he accomplish such feats in the future. His Bilderberg adventures showed him that he should instead muster all willing governments and business-leaders towards an entangling alliance if the world government would be accomplished.
This is exactly what he labored towards in the next 40 to 50 years. Under the guise of environmentalism, the prince founded the 1001 club in 1970 with the aim of raising funds for the World Wildlife Fund (of which Bernhard was the first chairman, and top-eugenicist Julian Huxley was the founding father).
Now, with Copenhagen in full swing, we are seeing exactly what the elitist environmental movements have worked towards: the creation of a global Leviathan.
Not by openly routing nation-states would the global designs of the New World Order be accomplished (which would after all only incite uprisings and rebellion), but rather by sneaking in through the United Nations, World Bank and other tentacles of global governance.
…….. …………………By the Way…………………………………………………, in anticipation of a response from Hanan and company (Probably)....... I hope SHE has completed her IDF Spokesperson's Officer's Course under the foreign press branch of the IDF Spokesperson Unit, I am sure she has Lt. Col. Leibovitch Photo framed and pays daily homage to her Hero and Idol.
I am worried about Malaysia, but I know that the Malaysian Tiger, Dr. Mahathir, is steps ahead of these (*&(&%. The Umma is truly lucky to have him.
God Bless Tun Dr. Mahathir and Family
God Bless Malaysia
Assalamualaikum tun mahathir yang saya hormati, saya doakan tun sentiasa di dalam keadaan sihat wala'fiat teringin saya nak berjumpe dengan tun, tapi belom pernah ade kesempatan lagi.
Dear Tun,
There are a lot of Malaysian student studying Medicine at UNHAS...my sister just graduated as a doctor from that Uni.
Salam buat Yg Bhg Ayahanda Tun,
Warga Indonesia pastinya berbangga dengan jasa Tun.
Sesungguhnya majoriti saudara kita di seberang sana amat menyanjung dan menghormati kita seandainya kita berbuat baik dengan mereka. Saya sendiri mempunyai lebih dua puluh pekerja warga Indonesia sejak lebih lima tahun dahulu dan masih kekal sehingga kini tanpa sebarang masalah.
Pokoknya mudah, mereka mencari rezeki dengan kita dan kita menjaga kebajikan mereka dan membayar upahan sewajarnya tanpa pernah mungkir. Hanya itu yang mereka pinta. Saya bangga sebagai rakyat Malaysia berjaya membantu saudara serumpun yang benar-benar berkemahuan sehingga mereka menjadi 'contoh' di kelurahan (kampung) mereka sedangkan ramai rakyat tempatan tidak berjaya saya pimpin - kerana angkuh dan tidak rela ditunjuk-arah walaupun diberi ganjaran lumayan. Itulah wajah-wajah kita..
SALAM BUAT TUN BERDUA MOGA DIRAHMATI ALLAH S.W.T
1) PENGHIJRAHAN NABI MUHAMMAD S.A.W KE MADINAH TELAH DITERIMA OLEH PENDUDUK ASAL NEGERI ITU IAITU KAUM ANSAR. MEREKA MENERIMA DENGAN BAIK SEKALI KAUM MUHAJIRIN YANG BERPINDAH SEBATANG KARA DARI MEKAH.
2) SEBABNYA MEREKA DAPAT MELIHAT CAHAYA YANG TERPANCAR DI MUKA NABI MUHAMMAD S.A.W YANG AKAN MEMBAWA SINAR KEPADA KAUM ITU, SEHINGGAKAN SANGGUP BERKORBAN HARTA-BENDA MALAH MILIK PERIBADI SENDIRI.
3) KEYAKINAN KAUM ITU TELAH TERJELMA DENGAN TEPAT SEKALI SEHINGGA TIDAK TERSALAH PILIHAN AKAN AGAMA YANG DI BERI TEMPAT ITU IAITU AGAMA ISLAM. MEREKA MEMBERI KEYAKINAN PENUH KEPADA NABI MUHAMMAD S.A.W AGAR MENUNJUKI KEJALAN YANG BENAR. WALAU PUN MENDAPAT ANCAMAN KAUM MUNAFIK.
4) AGAKNYA BEGITULAH JUGA PENDAPAT KAUM MELAYU PERIBUMI SEHINGGA DAPAT MENERIMA BANGSA BUGIS YANG BERMODALKAN KEHANDALAN BERPERANG YANG KEBANYAKAN BERAGAMA ISLAM. KEYAKINAN ATAU SEBALIKNYA (SEJARAH SILAM) SEHINGGA SANGGUP MENGANGKAT BANGSA BUGIS MENJADI RAJA MEREKA,
SEHINGGA SANGGUP MENGENEPIKAN HAK PERIBADI YANG DIMILIKI.
5) KESENINAMBUNGAN KETURUNAN ITU BERTERUSAN SEHINGGALAH SEKARANG DAN PERCAMPURAN PERKAHWINAN DENGAN BANGSA LAIN MEMUNGKINKAN KEHILANGAN JATI DIRI YANG TELAH ADA, KELUPAAN GENERASI SEKARANG ATAU TIDAK ADA LAGI SEMANGAT ITU MULA DI UJI GENERASI YANG ADA KINI.
6) DIHARAP KEPERCAYAAN DARI ZAMAN DAHULU TIDAK AKAN DILUPAI OLEH MEREKA YANG MASIH MENAIKI TAHTA SEBAGAIMANA HARAPAN NENEK MOYANG RAKYAT JELATA TERHADAP PEMERINTAH KEPADA ANAK CUCU MEREKA SEKARANG.
7) KERAMAHAN RAKYAT MAKASAR LEBIH TESERLAH JIKA BANGSA MEREKA YANG BERHIJRAH IKHLAS MENGGAMBARKAN DIRI MEREKA UNTUK MEMBANTU NEGARA YANG DIRANTAUI BUKAN SEBAGAI SATU CIPTAAN MENJAJAH SECARA HALUS MENGAMBIL KESEMPATAN KEBAIKAN RAKYAT YANG SEJATI AKAN BUMI YANG DIJAJAHI.
8) HANYA ALLAH S.W.T YANG MAHA MENGETAHUI DAN KITA AKAN KETAHUINYA BILA HARI KEBANGKITAN KITA UNTUK DIADILI ATAS AGAMA YANG KITA ANUTI IAITU ISLAM.
WALLAHU'ALAM
This is my favourite post in this blog. Indeed, there is no need to sore up the relations betweens countries/ societies / races/ people. We are not in the stone age any more. We don't have to breed hatred and enmity.
The student choir - that is always a pleasant scene. It always reminds me of the school days when I used to take part. It gives a warm peaceful feeling, even the best concerts cannot provide.
Hopefully, people will give up their hatred and work forward towards harmony in the South East Asia.
Asalamualaikum....
saya tak penah p makassar...dlm m'sia pun jaranggg jarangggggggg p
sbb duit kureennnnnng.....nak kumpui duit dari la cenggitu...
tapi kan bapak kan mlm tadi balik dari kerja saya tertenguk talian hayat kat ntv7...sian ngan nelayan kat penggerang ke aper ke....
depa tak dapat p tangkapan yg baik sejak pulau batu putih jatuh ketangan s'pore.....siap ngan kapai2 yg naaalaa besaq duk berlabuh kat pantai depa kata cuma 4 batu dari pantai jer....pulak tu kapai2 tu bukan satu bukan berbelas berpuluh2 kekadang beratus....
mandi kat tepi pantai dapat minyak itam percuma.....
wah best wooo....ye lah kiter kan kena berbaik ngan jiran....
takper kapai parking dekat ngan pantai kiter....sejuk mata memandang....tu yg si dol kansel jambatab bengkok tu....
kang tak cantik tepi pantai kiter...takder pemandang kapai besaq...
bukanlah saya nak jaga tepi kain org selatan sbb saya jauh kat utara...tapi tgk keluh kesah depa teringin lak nak borak ngan bapak....saya tension gak kaler nengok org m'sia susah susah sbb org lain nak senang......seDdiiiiih.....
Of course. You always love those Indonesian more than your own Malaysia non-malay.
Tun yang dihormati:
Thanks for the info. Great news. My great grand parents originated from the Celebes Island also. For certain reasons, we do not put our surname in front as it would have been.. But all my sons and daughters have the name "DAENG" as their surname... It makes them proud to know their origins.
thanks tun for the input,what a nice expression, sure i will be there someday
Tun,
Sure will one to try to be there once.Just got to wait for Airasia to go on promo this 2010.Take care Tun & Cheers.Wassallam.
salam Tun
Tahniah..
wlupun tika usia emas,masih trbang sana sini bg speech...
Alla people still love u n need ur ideas n suggestion to be a good people n progress country
Bravo Tun!
At least some efforts to loosen the tension! Thats my Ayahanda Tun!
http://setemiepigoni.blogspot.com
Salam Tun & Fellow blogers,
Nice to hear Tun's narrative about Makassar. Yes I think we all should spend time in this sort of places, and we can still feel life at home. However, we should be smarter like Tun, by trying to shoot 2 birds with stone, that is to say, not going there for the sake of going there only but create and establish network business or likewise, some things that can generate mutual interests.
I preferred during student time to travel places in Europe & USA and meet the people who I have established contacts earlier, some kind of penpals concept. By this way, I could enjoy my travels/visits as compared to travelling by organised vacation through travel agents etc. which I catogorised as boring.
A few occasions during my business trips to Japan for example, I did spend most of my time staying with Japanese families/home who I have established contacts earlier through cultural exchange programs. Not only that I saved money staying in the hotels,( in Japan that was not cheap ), but most imporatnat I enjoyed the stay much more in knowing and sharing their way life & culture. No substitute for first hand experience.
i would suggest maybe somebody should start this ( exchange programs) ball rolling as part of TUN's PEACE FOUNDATION objectives - MAKE PEACE & NOT WAR
May Allah bless us all.
salam tun
i value your life after retiring!it is precious as it is before,isn't tun?
kita serantau dan serumpun seharusnya hidup dalam penuh harmoni dan kerjasama.kadang-kadang apa yang tergambar di media bukanlah cermin sebenar realitinya.saya percaya dengan melihat kepada unsur-unsur positif, hidup kita akan positif juga.sooner or later,the truth will speak!
ros langkawi.
yes.. i really agree with you TUN... i love makassar. i worked there before, for 8 years.. great food, good place, nice people and etc. hey... i am married there to and i have a kid too. i travelled there always. if anybody want to go makassar please email me at muhmag128@yahoo.com.
Salam TUN,
Bugis sangat bangga dgn bangsa mereka, kadang2 sampai terlupa mereka org malaysia. Ini banyak berlaku di sabah terutama di tawau. Org bugis sabah masih banyak yg ikut kasta. Ada bugis first class, second dll. Mungkin masih terikut2 budaya hindu yg lama bertamadun di indonesia.
Bugis d semenjung dipanggil melayu dan ada yg dah lupa keterunan mereka.Lihatlah di terengganu,banyak budaya bugis di sana seperti songket dan lebeh2 loghat terengganu. Ikang,makang,jalang sama masih mertua saya cakap.
oops maaf bini saya org bugis bone dari tawau, tapi saya tetap bangga juga dng bangsa saya. Tapi yg mana satu saya pun susah nak pilih,Atuk sebelah bapa saya org RAWA sumatra,Atuk sebelah emak mata sepek, katanya keturunan yunan.Saya lahir di perak.
Apa2pun kita org melayu.
Maaf TUN, dengar kata TUN HASMAH org Mendaling ia ke?
Semoga sihat sejahtera kepada TUN dan Keluarga serta semua CHEDET's
Y.Bhg Tun,
Salam sejahtera dan iringan doa semoga Tun dan Puan Sri Hasmah sentiasa sihat sejahtera,
Saya dan isteri akan ke Makassar beberapa hari lagi. Saya amat berbangga dengan apa yang Tun maklumkan itu. Sememangnya kita Indonesia dan Malaysia tidak akan dapat dipisahkan walau pun ada pihak-pihak yang kurang senang akan hubungan baik ini.
Hanya kadangkala saya tertanya-tanya kenapa kita menjadi dua negara yang terpisah. Alangkah baiknya jika kita berada sebagai sebuah negara yang besar. Kalau ini berlaku saya percaya tidak akan ada negara dunia yang dengan senang hati memperkecilkan kita dan tidak akan ada sebuah negara kecil yang berlagak Singa.... dirantau 'Malay archipilago' ini.
Namun itu hanya tingal sejarah. Apa yang perlu dilakukan oleh pemimpin dan rakyat duan negara ini ialah membuangkan jauh-jauh apa sahaja perasangkan yang wujud. Tanamkanlah didalam hati bahawa kita adalah bersaudara. Kita saling memerlukan. Mungkin satu hari nanti kita akan menumpang rezeki mereka.
Salam dari saya keturunan Indonesia + India + Cina.
Assalamualaikum...
Yang dihormati Tun,
Kami sangat berbangga dan berterima kasih kepada Tun, walaupun berusia Tun masih lagi bekerja kepada ummat dan menyumbang bayak fikrah-fikrah yang berguna untuk kami yang muda ini sehingga sanggup pergi kepulauan makasar.
Kami harap kesungguhan tun meninggikan maruah umat melayu dan kalimah taiyibah dapat kami teruskan sehingga ke akhir hayat kami.
wassalam.
Assalamu'alaikum Warahmatullah Dear Tun and to all chedet fans,
Waduh, waduh...... Pak Tun, sungguh ganteng skali......!
May Allah bless you with a great health and grant us the great victory....Wassalam, Tq
SALAM KASIH DAN SAYANG
AYAHANDA RAKYAT TUN
IZINKAN,
...
2. I felt much welcomed there although torrents of rain pured down on the city for hours. The sun came out the morning I went to the Universitas Hasanuddin for the talk. It was a coincidence of course.
AND PERHAPS, ITS NO COINCIDENCE AYAHANDA TUN BUT ALLAH SWT 'GIFT'... KEPADA SEORANG INSAN YANG IKHLAS, SUCI, JUJUR DAN BENAR DALAM MEMBANGUNKAN DAN MELINDUNGI UMMAH YANG 'TERANIAYA' TERUTAMANYA KEPADA ANAKANDA RAKYAT YANG DIKASIHI NYA.
ALFATIHAH, AMIN.
Thank you very much,Tun. I always associate Indonesia tourism with Jakarta, Bandung and Danau Toba before...now I am adding another spot.Terima kasih sekali lagi!
Yang Amat Berbahagia Tun,
Saya baru pertama kali hantar komen, walau pun selama ini mengikuti blog Tun. Memang amat indah sambutan yang diberikan kepada Tun, dan indah juga tempat yang dilawati di Indonesia itu. Pada umumnya kita tetap mencintai negara jiran kita itu, dan segala-segalanya adalah serumpun. Cuma dalam beberapa hal dari segi keagamaan, kita agak berbeza, pertama sekali ialah tentang Perlembagaan kita yang meletakkan Islam sebagai agama Persekutuan, dan latar belakang budaya dan bahasa serta beberapa aspek sosial, seperti perkahwinan campuran umpamanya, kita agak berbeza. Hal ini , saya rasa, perlu kita pertahankan, ini adalah identiti kita di Malaysia, dan saya tau, Tun sendiri amat faham tentang hal ini, seperti yang saya fahami ketika kita sama-sama berdialog dan berseminar deengan peserta-peserta antarabangsa dan tempatan ketika di IKIM dulu. Tun amat konsisten dalam pendirian Tun. Wassalam